Published On: April 4, 2018By Categories: Alumni, berita, Guru, Pesantren, SiswaViews: 138

Dari semua alur cerita yang terangkum dalam perjalanan DeGia, bagian “Ulang Tahun Apah” ini yang paling berat buat saya.

kenapa berat? …

Karena saya harus berjuang menghentikan tangis yang tak bisa dibendung, usai menyaksikan rekaman DeGia saat mengucapkan “selamat ulang tahun untuk Apah”, dengan kalimat yang begitu rapi dan tertata. Padahal saat itu, DeGia baru melewati saat saat demam yang sedemikian berat, hingga 40 derajat panasnya.

Namun dengan wajah berserinya, DeGia bisa menunjukan kebahagiaan pada Apahnya.

selain moment ulang tahun itu, yang paling membekas di hati adalah dialog ini

“Di dunia ini, mungkin Degia kebagian peran jadi orang sakit ya, Mah”.

Maa syaa Allah, mengingat perjalanan DeGia … memang membuat saya merenung tentang kepatuhan dalam menjalani peran.

Bukankah kita menyusuri dunia ini layaknya seorang aktor di panggung sandiwara? Hanya mengikuti jalan cerita yang dibuat oleh Allah SWT sebagai penyusun skenario. Dengan begitu, maka kita akan tetap bisa bahagia, dalam tawa maupun tangis. Karena semua ini sekadar peran yang cukup kita patuhi saja. Peran ini akan berakhir, jika usia dunia telah usai. Dan akan hidup sesungguhnya di akhirat nanti.

Terakhir, saat menulis perjalanan DeGia, mungkin saya hanya menuliskannya untuk mengalirkan energi kesyukuran, kesabaran dan keikhlasan. Namun setelah buku ini ada, ternyata jangkauannya lebih luas. Yakni tentang Parenting.

DeGia bisa jadi sosok anak hebat, karena ada ibu hebat di belakangnya. Yakni Ibu Chusna Arifah dan Ayah yang bijak seperti Ang Chev Faniez. Bagaimana mereka berdua menempa DeGia menjadi kuat?

Bisa kita simak saat talk Show yang akan digelar di Gramedia Level 21 Mall Denpasar Bali pada tanggal 15 April 2018.

https://www.facebook.com/LittleAngle/

gia the little angel

About the Author: Anas Ma'ruf

Berita Terbaru